Produk Cinta
Sesungguhya adakah persamaan antara cinta adalah memilih atau cinta adalah mempercayai. Ataukah justru keduanya saling bertaut antara satu dengan yang lainnya. Ada juga benarnya cinta adalah pilihan. Saat dua insan yang beda pola pikir dan pemahaman memilih untuk saling mencinta. Lalu menumbuhkan kepercayaan kepada keduanya. Percaya untuk saling memberi dan menjaga kesetiaan mereka. Namun bisa juga justru cinta tumbuh karena dua orang saling mempercayai satu dengan lainnya. Sehingga memilih merekatkan cinta yang ada pada diri mereka masing pribadi. Agar senantiasa berkembang seriring dan sejalan.
Sejenak tenggelam di belantara etalase swalayan sungguh mengasyikan sekaligus membingungkan. Bingung bukan karena banyak barang yang ingin dibeli (meski godaan itu selalu ada sementara kantung pas-pasan isinya), sebab secarik kertas mungil yang berisi daftar barang yang diprioritaskan untuk dibawa pulang. Menyenangkan sebab dari stau demi satu deret pajangan kita bisa mengenal dan membandingkan antara produk ini dan yang itu. Tapi apa yaa waktu kita tak terbuang percuma untuk mencari titik nadir analisa dan komparasi. Sebagai keputusan barang yang ini lebih baik dari yang itu. Waaauw. Kita cuma ingin belanja bukan menjadi analis produk pasar.
Saking banyak barang. Bahkan menurutku telah sungguh sangat terlalu banyak. Tanpa kita sadari ternyata kita justru dibingungkan. Coba kita sejenak menutup mata tentang harga yang terpampang yang kadang begitu fantastis. Hingga akhirnya persepsi kita lalu menyudutkan kantung kita bahwa mahal sudah pasti kualitasnya bagus. Tapi anehnya kenapa yang murah koq masih eksis dan selalu ada dan lain waktu justru berkembang dengan kemasan dan komposisi yang semakin lengkap. Nah lo. Serba salah dan pusing kan.
Produk ini ada banyak keunggulan telah ditambahkan formulasi khusus sehingga lebih baik bagi yang membelinya. Sementara produk yang sebelah sana biasa saja namun justru banyak orang yang membeli. Terkadang juga kita dengar dari teman, kenalan, mereka juga membeli dan senantiasa setia dengan produk yang mereka percaya.
Lantas kepada siapa kita harus percaya? Kemasan yang membungkus utuh isinya. Kepada firasat dan insting yang tak juga begitu penting saat mengambil dari rak pajangan. Ataukah justru kepada pilihan kerabat sobat dan kenalan kita bagai rayu bujuk keputusan. Sementara dari etiket yang tertempel di kemasan meski ada banyak susunan isi yang terdapat di dalam isinya malah semakin membuat kita ragu. Apakah dengan lengkap dan sempurnanya isi nanti akan bermanfaat dan membuat kita lebih yakin. Padahal kesempurnaan dan lengkapnya materi itu semu. Kita tak bisa memilah dan menyebut setelah sejumput isinya. Setelah melihat dari tuang tangan dan mata kita yang tak setajam uji laborat.
Yah kita bingung dan itu hak kita sebagai manusia. Sebagai pembeli dan sebagai pemilih dari sisi dunia belantara toserba. Saat anugerah produsen menggelar tangan kapitalis mereka. Disaat mereka tak hanya menyediakan tak hanya satu alternatif jenis dalam satu merek dagang miliknya. Kita boleh juga percaya dengan suara dari orang terdekat kita. Sebab mereka selain dekat dengan kita. Tak mungkin akan memberikan resensinya yang justru darimana mereka dapatkan, Lebih tepatnya dari siap juga mereka peroleh. Sempatkah mereka juga sepaham dan berpola pikir seperti kita.
Analoginya mungkin kurang begitu tepat. Namun Kita sendiri pasti justru semakin ribet. Semakin larut dengan kalutnya kehidupan kita. Sebenarnya cinta tak lebih dan kurang hanyalah mencoba. Layaknya kita membeli suatu produk. Saat isi kantung kita cukup kenapa tak kita coba membawa pulang produk dengan nilai lebih merogoh saku. Tapi kenapa tak juga kita sejenak waktu mencoba kepada sebuah cinta yang sederhana. Produk yang mampu kita raih dengan isi kantung yang pas milik kita. Sementara waktu berjalan toh orang juga mengikuti kita. Justru mereka mampu sumringah dengan pilihannya. Perjalanan waktu juga justru memberikan kepercayaan bagi mereka untuk semakin sempurna diantara mereka.
Walau beberapa waktu berjalan pasti juga melirik yang lainnya. Namun telah saling percaya memilih mereka untuk tetap mencinta dengan pilihannya. Belum tentu apa yang baik bagi orang lain akan memiliki esensi yang sama akan dirasakan oleh mereka. Cocok dan tepat bagi diri pribadi mereka. Meski begitu cinta lebih dari sebuah pilihan dan tak hanya sekedar butuh saling percaya untuk menuai apa yang mereka tanamkan dihati waktu yang lalu. Cinta butuh konsistensi setiap waktu yang terjaga saat satu dengan yang lainnya saling menerima dan memberikannya kepada lainnya. Dan kemasannya juga perlu divariasi dan ditambahkan formulasi yang lebih inovatif. Supaya isi dari cinta tetap terjaga selalu meski tak bisa satu demi satu dirinci dan terlihat oleh kasat mata. Sebab cinta sebuah rasa, bukan sebuah bentuk yang terlihat. Disaat yang lain merasakan ada kurang atau butuh penyegaran.
Silahkan memilih variasi produk cinta. Namun bukan produk lainnya misal benci atau produk tak peduli. Sebab bila semua variasi cinta dijadikan satu dalam sebentuk kemasan rasanya justru tak karuan dan menjadi begitu hambar. Tak mampu kita dapatkan dalam satu kemasan. Saat kita rapuh kita butuh variasi produk cinta yaitu dukungan dan semangat. Manakala amarah dan kebencian mungkin. Ada baiknya varian produk cinta yang bersifat menetralisir ekses dari sebuah waktu.
Begitulah sebuah cinta saat di berproduksi bukan sekedar mengisi ulang sebuah kemasan plastik. Meskipun suatu saat botol plastik dirumah kita telah habis. Jangan buang kemasannya. Kelak suatu saat kita butuhkan untuk diisi ulang. Supaya kita tak hanya sekedar membeli kemasan. Lalu membuang melenggang ke penampungan sampah yang kian penuh dengan unsur yang tak bisa dicerna oleh perut bumi kita. Ya sebab kita tak akan pernah bisa mencerna sebuah bentuk. Lain halnya bila kita lebih menghargai esensi dari cinta. Dia akan sanggup kita cerna. Sanggup kita urai dalam jiwa kita. Sampai kita benar-benar mengerti bahwa cinta sebuah rasa yang bisa menghilang dan tumbuh disaat tertentu tanpa kita sadari dalam bentuk lainnya.
………………………………
DiY.2007.09.24 – 0100